Saturday, October 22, 2011

Review Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot

Bagi para pengguna Ubuntu, pastinya rilis Ubuntu 11.10 yang diberi kode nama Oneiric Ocelot adalah hal yang ditunggu. Pada tanggal 13 Oktober 2011 kemarin, Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot resmi diluncurkan. Sebagai pengguna turunan dari Debian ini, saya ikut penasaran dengan perubahan yang dibawakan oleh Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot. Oleh karena itu, dengan berbekal koneksi internet Flash Unlimited Midnight, serta download accellerator andalan, Prozilla, saya mengunduh file ISO Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot.
ubuntu oneiric gnome shell Review Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot
Setelah file selesai saya download, saya menggunakan mode Live USB untuk mencoba Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot. Dengan tampilan Gnome 3 plus Unity Gnome Shell, tampilan Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot hampir tidak ada perubahan seperti pendahulunya, Ubuntu 11.04 Natty Narwhal. Hanya saja, penempatan menu pilihan aplikasi, yang sedikit dibuat lebih ribet (menurut saya). Selain itu, banyaknya aplikasi yang hilang, membuat saya enggan untuk memasang Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot untuk mendampingi Linux Mint 11 Katya milik saya. Beberapa aplikasi yang menurut saya penting, yang tidak saya temukan pada Ubuntu 11.10:
1. Synaptic Package Manager
2. Gconf-editor
Selain itu, pengaturan tampilan pada Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot, cukup merepotkan. Saya yang biasanya menemukan pengaturan ukuran font untuk tampilan, kini tidak menemukannya (atau memang belum saya temukan). Sehingga, tampilan untuk notebook Axioo Pico PJM milik saya, kurang pas. Padahal menu ini sering saya gunakan pada Ubuntu versi-versi sebelumnya. Sehingga bagi saya, menggunakan Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot butuh waktu untuk menghafal letak menu pengaturannya.
Sama seperti Ubuntu sebelumnya, tanpa Ubuntu Restric Extras, kita tidak dapat mendengarkan musik, memutar video, serta browsing ke website yang menggunakan flash player. Selain itu, aplikasi grafis juga dibuat minimalis, tanpa adanya GIMP. Saya yang terbiasa menggunakan Linux Mint, merasa sangat kurang, serta membutuhkan Bandwidth extra untuk melengkapi Ubuntu yang saya gunakan, agar bisa sesuai dengan kebutuhan (merepotkan).
Karena merasa kurang cocok dengan Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot, akhirnya saya tetap mempertahankan Ubuntu 11.04 Natty Narwhal untuk mendampingi “Mbak Katya”. Bagi saya, sangat disayangkan perubahan dan juga pengurangan beberapa menu pada Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot. Karena bagi pengguna Ubuntu pemula seperti saya, perubahan ini cukup membingungkan. Entah perubahan apalagi dan pengurangan aplikasi apalagi yang akan dibuat oleh developer Ubuntu, pada Ubuntu versi berikutnya. Semoga saja anda pengguna Ubuntu Oneiric Ocelot yang masih belajar seperti saya, bisa tetap bertahan. Untuk saat ini, file ISO Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot yang saya miliki, hanya untuk tambahan koleksi distro Linux saya saja.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews